<div style='background-color: none transparent;'></div>
InstaForex
Home » » Mengedit itu Mengenyangkan

Mengedit itu Mengenyangkan

Mengedit itu Mengenyangkan


Gubernur Jakarta yang Disayang Twitter

Posted: 01 Aug 2012 04:50 PM PDT

Jakarta kota yang paling banyak berkicau (tweeting) di seluruh dunia*). Ini bukan sekedar membual. Angka-angka telah dirilis oleh mereka yang mengamati perilaku pengguna twitter. Bukan hanya di lingkup Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Lalu apa yang bisa diharapkan dari 'prestasi' yang membanggakan ini?

Jelas bukan perkara gampang mendapatkan jumlah pengguna twitter. Terlebih dengan jumlah yang besar, mereka aktif 'bercicit' akan segala sesuatu. Benar-benar butuh banyak upaya untuk dapat mengumpulkan angka sebanyak itu bila ini adalah hitungan kompetisi. Dan karena angka ini sudah 'terlanjur' besar, harus ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bersama bagi kota ini.

Twitter tak sekedar permainan kata-kata pendek berisi 140 karakter. Perlu kejelian dan pemilihan kata yang tepat untuk bisa memilah keterbatasan kata untuk mewakili apa yang ingin disampaikan. Memilih jelas bagian dari kepandaian menentukan mana yang lebih tepat sasaran. Dan memlih ini pula, yang mengantarkan penggunanya untuk pandai-pandai dalam bertutur. Pada tataran ini, pengguna twitter bisa dibilang lebih 'pandai' dari media sosial lainnya. Kepintaran yang berujung pada banyak hal. Banyak dari mereka yang akhirnya bisa menentukan pembicaraan yang lebih bermakna.

Bila Rhenald Khasali menulis di bukunya, bahwa eranya kini adalah generasi C, alias Connected, begitulah yang terjadi di dunia yang saat ini berkembang. Pribadi-pribadi yang tak mengenal satu sama lain sebelumnya, dengan mudah bisa lekat dengan pribadi lain karena persamaan persepsi, kekaguman prinsip, bahkan sebuah hal yang remeh sekalipun. Macet misalnya.

Seberapa sering kau temui kata macet di linimasamu. Saya kebetulan punya kenikmatan bisa tinggal di dua kota sekaligus, Jakarta dan Bandung. Mobilitas ini mengantarkan pemahaman yang agak berbeda pada kata macet. Bandung tak bisa dipungkiri, juga sering terjebak rutinitas macet. Namun Jakarta jauh lebih pengap dengan teriakan macet. Di twitter, maupun di lapangan sesungguhnya. Kau akan mudah paham jika macet di Bandung adalah sebuah kondisi yang berlaku pada hari tertentu, atau di titik-titik tertentu. Jakarta? lebih sulit untuk tidak mengatakan macet bahkan sebelum kita berangkat.

Sumber : Google+
Apa yang bisa ditawarkan penguasa Jakarta, terkait dengan hal ini. Saya mengharapkan, dengan adanya petunjuk-petunjuk akan lokasi yang terkena macet ini, tiba masanya sang pemimpin turun ke lapangan. Mengkomandoi petugas lalu-lintas yang berjaga, memutuskan untuk bertindak tegas bila kondisi diperlukan untuk mengurai macet. Dan semuanya, termonitori oleh bantuan twitter!

Bagaimana caranya? Pola yang berlaku di twitter saat ini (di Jakarta pula), ada beberapa akun twitter yang aktif mewartakan titik-titik macet. Akun twitter ini melibatkan akun berbasis komunitas seperti @InfoJakarta , bahkan situs yang mengelola @Lewatmana yang fokus pada informasi jalan raya, juga akun resmi twitter kepolisian @TMCPoldaMetro. Teriakan mereka bisa dianggap mewakili titik-titik mana yang perlu diprioritaskan untuk dikendalikan. Sejauh mana 'gema' status macet ini bergaung di linimasa (melalui jumlah retweet atau buzz), itulah lokasi yang mewakili untuk siaga ditangani segera.

Inilah petunjuk yang menentukan. Kita tak bisa melewatkan kondisi ini dengan kesadaran setengah. Tidak hanya bagi pengguna twitter, namun juga bagi penguasa Jakarta. Pengguna twiter akan mewaspadai lokasi yang dianggap terkena macet. Kita lihat perilaku mereka selanjutnya, selain meneruskan pesan macet yang mereka baca, mereka juga bereaksi. Tak sedikit yang mengumpat dan berujung pada menyalahkan pihak tertentu. Status seperti inilah yang butuh 'ditundukkan'.

Semakin liar suatu pesan negatif berhembus tanpa adanya tindakan solutif, bisa merembet. Karena persoalan kondisi di jalan raya, adalah persoalan keseharian yang ditemui warga. Saat kau menemukan kegelisahan ini terulang setiap harinya, maka itu pula yang disematkan pada bidang lainnya. Ketidakmampuan menguasai daerah.

Disinilah seorang pemimpin Jakarta perlu menunjukan dirinya. Dan cara menunjukan 'keberadaan dirinya' kepada stakeholder alias warganya, tak lain dan tak bukan, adalah menampakan dirinya atau personalisasi dirinya di pusat perhatian publik.

Melawan macet, pemimpin bisa hadir di tengah-tengah keterpihakan warga dengan 2 cara:

1. Hadir secara fisik di titik tertentu yang banyak dikeluhkan warga.
Kehadiran secacar fisik mungkin bisa sulit dilakukan karena akses waktu yang terbatas dari seorang pemimpin seperti di Jakarta. Namun sebagai warga yang berada di tengah-tengah kondisi macet, menyaksikan kondisi genting seperti ini lalu menemukan pemimpinnya berada diantara mereka dan terlibat dalam penguraian masalah, adalah sebuah kondisi yang bisa menginspirasi. Mereka akan tahu bahwa sebenarnya pemimpin mereka 'bekerja'. Paling tidak, ini menyimpulkan hal lainnya, bahwa kemacetan sudah mereka coba kendalikan. Status kejelasan seperti inilah yang bisa mengantarkan pemahaman warga bahwa mereka sedang ditangani oleh pemimpin yang bekerja dengan sepenuh hati.

2. Memberikan penyelesaian secara cepat, lugas dan terarah via media sosial.
Dan twitter mampu mewakili penyampaian informasi warga dengan baik. Twitter yang menyampikan berita dengan mudah dan cepat, memungkinkan tindakan respon yang juga cepat. Pemimpin Jakarta bisa menjawab kegelisahan ini dengan memberitakan penyelesaian yang ditempuhnya di twitter. Merangkul jurnalistik warga dengan counter yang tepat sasaran jadi perkara yang bernilai positif. Warga di linimasa bisa mengetahui dengan segera bahwa persoalan mereka juga mendapat perhatian dari pemimpinnya.

Inilah keterpihakan seorang pemimpin Jakarta pada warganya.

Sulitkah melakukan hal tersebut? paling tidak hal inilah yang bisa mereka lakukan. Menjawab kegelisahan warga dengan tindakan. Meski sebatas berbalas mention di twitter. Komunikasi genuine yang terbangun antara warga dan pemimpinnya adalah 'terobosan akan komunikasi warga yang terkendala protokoler konvensional. Sebuah komunikasi yang kini bisa dengan mudah dijembatani media sosial. Dan untuk bisa mengamati kejadian di media sosial ini, perlu alat bantu yang tepat. Dan platform Politicawawe yang cermat mengamati pergerakan warga di dunia maya akan sangat membantu.

Sumber :  http://politicawave.com/politica_slides

Politicawave terbukti bisa melacak pergeseran yang terjadi pada dukungan warga Jakarta saat pemilihan gubernur Jakarta pada tahap pertama lalu. Satu kelebihan yang tidak 'tertangkap' oleh media penyelenggara jajak pendapat konvensional karena cakupan waktunya yang lebih luwes. Dari sini pula kita bisa mengamati, bahwa perilaku calon pemimpin juga menentukan arah dukungan warganya. Misalnya pernyataan Ahok yang sejuk saat disudutkan oleh pengguna twitter. Sentimen positif seperti inilah yang terlihat sepele namun bisa menyebar secara viral di twitter sebagai reaksi positif.

Pemimpin juga bisa belajar bagaimana memperlakukan warga dengan baik. Reaksinya di linimasa twitter bisa mengungkap sosok yang lebih jujur bagi warganya. Jadi jangan heran bila ada pemimpin yang merasa sensitif di twitter, bahkan ada yang mengubah gaya kampanye untuk mendulang simpati positif warganya. Dengan profil pemimpin yang lebih lengkap ditangkap, warga pun akan bisa memahami arah pikiran pemimpinnya. Tak kenal maka tak sayang kan?

*)Sumber : http://techcrunch.com/2012/07/30/analyst-twitter-passed-500m-users-in-june-2012-140m-of-them-in-us-jakarta-biggest-tweeting-city/
Share this article :

0 comment:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. trading online . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger