<div style='background-color: none transparent;'></div>
InstaForex
Home » » Mengedit itu Mengenyangkan

Mengedit itu Mengenyangkan

Mengedit itu Mengenyangkan


Bekali Keluarga Dengan Program "Zero Waste"

Posted: 15 Mar 2013 04:13 AM PDT

Sepertinya kita memang punya masalah akut soal sampah. Ketentuan untuk membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit kita patuhi. Terlebih memperlakukan sampah dengan benar, sesuai dengan yang semestinya.

Memang benar, sampah harusnya tak teronggok begitu saja di sekitar kita.Menempatkannya pada wadah yang dikhususkan untuknya ; di tempah sampah, bak sampah, juga tak sepenuhnya 'benar'. Namun sebenarnya, masih ada tindakan tambahan yang perlu dilakukan.

Kita juga pasti akur, hidup bersih itu sangat menyehatklan. Tapi dengan catatan loh ya, bukan berarti hanya sekedar melenyapkan sampah dari pandangan, bukan!


Mudah saja kita dicap bersih, rumah kita dianggap rapi, atau lingkungan kantor juga indah dipandang tanpa keberadaan sampah yang tercecer. Terlihat mudah untuk mendapatkannya. Dan dengan hal ini pun, kita punya kontribusi yang benar. Tanpa 'nyampah'. Itu juga yang awalnya saya kira.

Eh, ternyata, apa yang kita lakukan itu masih kurang loh. Karena faktanya, sampah yang entah dimana berakhir perjalanannya itu, tetap saja bisa menjadi masalah.Coba saja kita lihat di Tempat Pembuangan Akhir alias TPA (udah ada yang pernah lihat?).


Disini, timbunan sampah akan lenyap dalam pandangan. Bukan dalma artian sudah hilang loh. Karena timbunan ini bila sekilas dilihat pandangan mata, akan tertutup oleh asap tebal yang ditimbukannya. Bukan saja karena sisa pembakaran, namun gas yang dihasilkan oleh kumpulan sampah itu memang nyata adanya. Asap ini benar-benar tidak memberikan kesempatan bagi kupu-kupu untuk melewatinya. Sadis ya :)



Itulah yang disampaikan Anilawati Nurwakhidin, dari YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) Bandung saat bertemu dengan ibu-ibu dari PT KAI di kantor pusat KAI Bandung, Jalan Perintis Kemerdekaan no 1 Bandung, pada hari Rabu, 13 Maret 2013 lalu.



Pengantar ini paling tidak bisa mengajarkan kepada kaum ibu, agar lebih arif dalam memandanga permasalahan sampah. Ibu-ibu jelas menjadi target yang tepat untuk memberikan contoh yang kuat dalam keluarga. Paling tidak, dari iu-ibu inilah kebijakan keluarga dalam mengolah sampah bisa menjadi acuan. Dari satu keluarga yang benar, akan menjadi 'rantai' yang berguna untuk mengajak hal positif ini ke anggota keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Coba saja perhatikan, sampah yang biasa kita hasilkan setiap harinya memang didominasi oleh sampah hasil olahan rumah tangga. Itu pula yang sering kita temui di tepi jalan. Sampah rumah tangga ini bertengger di pagar, teronggok di tepi jalan bahkan tercecer akibat gigitan brutal kucing-kucing yang doyan berkeliaran di pemukiman penduduk. Pemandangan jamak yang bisa saja kita temui setiap paginya.

Dan tahukah, hal ini pula yang membuat kota secantik Bandung sampai gagal mendapatkan adipura. Piala yang selama ini dianggap sebagai kekuatan untuk mengalahkan sampah di perkotaan. Hingga kita juga pernah mendengar musibah longsornya TPA di Leuwigajah Bandung yang menewaskan 156 warga di tahun 2005 bisa menjadi petunjuk nyata bagi kita.

Jika kita menganggap sampah sebagai masalah "melenyapkan dari pandangan mata", ini bisa jadi sumber bencana yang bisa mengintip sewaktu-waktu jika kita tak serius menanggapinya.

Dan ternyata, masih menurut Ibu Anil, sebenarnya kita bisa mengurangi volume sampah yang kita hasilkan di rumah hingga 70%! Ini bukan angka yang kecil, Jika satu rumah saja bisa mengurangi kadar sampah hingga tersisa 30% saja, maka kita tak perlu mencemaskan hal buruk seperti di atas.

Apa yang dilakukan oleh Ibu Anil dan rekan-rekan di Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi ini adalah memilah sampah, membaginya ke dalam golongan organik dan non-organik, serta memanfaatkan limbah yang masih bisa diolah.

Eh, jangan buru-buru membayangkan itu artinya kita harus terampil mengolah sampah plaastik menjadi kap lampu yang lucu misalnya, karena dengan memisahkannya dan memberikannya pada mereka yang bisa mengolahnya, itu juga bagian dari upaya menyelesaikan masalah.

Untuk yang organik, kita bisa memasukan atau menguburnya ke dalam tanah dengan cara membuat biopori. Lubang ini nantinya bisa mengantarkan sampah organik ke dalam tanah agar bisa dihancurkan oleh bakteri pembusuk.



Bagaimana bila kita tak punya cukup tanah untuk menguurnya? YPBB memperkanlkan kota sederhana yang disebut Takamura.Kotak ini pronsip kerjanya sama dengan tanah, karena berisi material tanah, sekam dan dedak.

Sampah organik tersebut bisa dibenamkan ke dalam kotak tadi, dan proses pembusukan secara alami pun terjadi. Inilah yang disebut menghancurkan tanah yang selaras dengan alam. Tak terlalu sulit sepertinya kan?

Jika masih ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi, bisa menghubungi http://ypbbblog.blogspot.com, akun twitternya di https://twitter.com/ypbbbdg atau facebooknya di http://www.facebook.com/ypbbbdg
Share this article :

0 comment:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. trading online . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger